Berita



Home / Aku tahu / Kabar Remaja
Ceritaku: Aku dan Sahabat Tunadaksaku

Jumat,27 Juli 2018 oleh Isnaeni Nur Fatima


Ceritaku: Aku dan Sahabat Tunadaksaku

Tidak semua manusia terlahir dengan normal. Baik secara fisik ataupun mentalnya. Sedikit cerita tentang pengalaman penulis bersama sahabatnya. Sahabatku itu, yang biasa aku panggil saliha. Ku mengenal dia sejak di bangku SMP dan kita teman sekelas. Saat berkenalan kulihat seperti remaja pada umumnya. Awalnya aku memang tidak mengenal dekat dengan Saliha itu. Seiring berjalannya waktu aku pun dapat mengobrol dan bermain bersamanya.

Ya dia tampak biasa saja. Namun teryata dai tidak biasa saja. Secara fisik dia tampak sehat, namun dalam beberapa situasi dia terlihat berbeda. Tangannya bergetar ketika beraktivitas, baik untuk menulis, makan atau aktivitas lainnya. Sebagai teman aku pun membiasakan dengan pemandangan itu. Saat itu kita masih berumur sekitar 13 tahun sehingga aku pun sedikit enggan untuk bertanya. Karena takut menyinggung apabila salah menyampaikan.

Kita semakin dekat hingga di bangku kelas 8 pun aku dan Saliha duduk sebangku. Selama sebangku pun aku harus terbiasa dengan gerakannya yang berbeda. Dalam beberapa aktivitas pun aku membantu dia, untuk sekedar membuat garis lurus dengan penggaris, membuat lingkaran dengan jangka, menjahit dan lainnya. Dia kesulitan karena tangannya akan bergetar dengan sendirinya. Untuk makan, minum, menulis dia sudah terbiasa melakukan kegiatan itu dengan baik. Dalam berbicara dia juga seperti teman yang lain walaupun terkadang ada satu dua kalimat yang tidak begitu jelas.

Sebagai teman sebangku pun aku juga sering ke rumahnya. Kedua orang tua sangatlah baik. Begitu luar biasa menyambut teman-teman anaknya. Sehingga aku dan teman lainnya sering bermain di rumahnya ketika pulang sekolah ataupun di hari Minggu. Baru ku tahu bahwa Saliha ini anak tunggal, kakaknya telah meninggal ketika baru lahir dan berselang tahun Saliha hadir di dunia. Saliha ini menjadi anak kebanggan kedua orang tuanya. Saliha ini termasuk anak yang tekun dan sesuai namanya ia menjadi wanita yang solehah.

Hubunganku pun dengan Saliha semakin hari semakin dekat. Akhirnya aku pun bertanya apa yang sebenarnya terjadi dengan dia. “Kenapa tanganmu mudah tremor kalau nulis?” Tanyaku. Saliha menjawab ada saraf yang terganggu katanya. “terganggu gimana?” balasku, “ya gitulah, aku juga kurang paham” balasnya. Dia pun juga bercerita bagamana ia harus beradaptasi dengan dirinya ketika berada di lingkungan baru. Seperti pas SD dia sering diejek, jarang ada teman yang mendekat entah karena takut. Namun seiring berjalannya waktu teman-teman di SDnya pun diberitahu oleh para guru dan semua menjadi biasa karena sudah terbiasa. Selain itu dia pun membuktikan kemampuannya dengan prestasi yang dengan mudah menjawab semua ejekan dari teman-temannya. Sering ku bertanya “kok engga di obati?”, jawabnya “aku juga bingung, kata bapak ibuku ga papa kok dan mereka sudah menerima keadaanku dengan sangat baik”. Ya apa yang di katakan Saliha sangat benar. Orang tuanya tak pernah mempermasalahkan keadannya. Walau sering kali dia bercerita padaku bahwa dia berharap sebentar saja menjadi sepertiku, menjadi seperti yang lain, menjadi normal. Walau hanya untuk sebentar saja.

Hingga sewaktu SMA. Tiba-tiba Saliha menelponku bahwa ada dokter yang bisa menyembuhkannya dengan beberapa terapi, dia terdengar begitu bahagia. Aku pun mensupport dan selalu medoakan kebaikannya. Namun sayang, orang tua memutuskan untuk tidak mengambil pengobatan tersebut. Karena sudah menerima dan mensyukuri keadaan Saliha. Ia pun menerima keputusan kedua orantuanya dengan penuh kesabaran.

Kini Saliha beranjak dewasa. Ia melanjutkan studinya hingga ke perguruan tinggi dengan jurusan matematika murni di salah satu universita swasta di jogja. Beragam pertanyaan tentang dirinya, ejekan, keluhan sudah biasa ia dengar. Hingga pada akhirnya entah terlambat atau tidak atau memang diberi jalan saat ini, aku membaca beberapa penelitian tentang diffabel. Dalam penelitian itu mengklasifikasi bentuk kecacatan fisik atau mental seseorang dari tingkat paling ringan hingga berat. Aku pun berhenti pada satu pembahasan mengenai tunadaksa. Aku pun juga baru tahu ada yang namanya tunadaksa dengan pengertian yang mirip Saliha alami. Ku langsung telepon dia untuk memberitahu tentang penelitian terkait tunadaksa. Dia pun membaca info terkait tunadaksa lewat internet.

Namun aku pun juga tidak memutuskan apakah dia menderita tunakdaksa walau ciri-cirinya sama, karena memang harus ditangai oleh ahlinya. Ia begitu bahagia ketika ada secercah cahaya untuk tahu siapa dirinya. Dia menangis dan berkata aku tahu siapa aku. Aku cari selama ini namun bagiku sudahlah aku terima saja semua ini, katanya.

Pesan yang aku ambil dari kisah ini adalah setiap orang pasti juga perlu mengenal dirinya sendiri. Walau orang tua telah menerima seorang anak dengan ikhlas namun yang menjalani hidup itu tetap seorang anak itu. Saliha juga berhak mendapatkan informasi tentang kesehatannya, karena dengan diagnosa yang tepat dia akan lebih menerima dirinya sendiri. Saat ini Saliha telah menyelesaikan studinya. Dia berupaya untuk terus mencari tahu jati dirinya.








Peta Layanan
Menu ini berisi tentang materi utama tentang kesehatan seksual dan reproduksi yang dapat dijadikan rujukan bagi
Audio Visual
Menu ini berisi tentang materi utama tentang kesehatan seksual dan reproduksi yang dapat dijadikan rujukan bagi
Alat Test
Menu ini berisi tentang materi utama tentang kesehatan seksual dan reproduksi yang dapat dijadikan rujukan bagi




Jangan lupa follow kami ya...






Didukung Oleh :
Copyright Dunia Remaja © 2014 Developed by dunia remaja