Berita



Home / Aku tahu / Kabar Remaja
Menjadi Teman yang Peka Terhadap Perubahan Mood Teman

Rabu,24 2018 oleh Fullah Jumaynah


Mood Booster

Perubahan suasana hati atau yang kerap disebut dengan mood pada remaja sering kali dianggap lumrah, khususnya oleh para orangtua. Bahkan tak jarang kita kerap menghujat para remaja yang mood swing atau berubah-rubah suasana hati dengan ababil alias “abg labil”. Namun, ternyata perubahan suasana hati pada remaja sudah seharusnya menjadi hal yang perlu diperhatikan.

Kira-kira 1 dari 5 remaja di dunia telah menerima diagnosis kesehatan mental, dan salah satu tanda remaja yang memiliki masalah dengan kesehatan mental adalah perubahan mood yang sangat cepat.

WHO menyatakan bahwa 75% gangguan mental emosional memang umum terjadi sebelum usia 24 tahun. Artinya, usia remaja rawan menjadi sasaran gangguan kesehatan mental. Ada sebuah rekomendasi film besutan Netflix yang berjudul 13 Reason Why, sebuah serial yang menceritakan seorang remaja perempuan bernama Hannah Baker yang memutuskan mengahiri hidupnya dengan bunuh diri. Terdapat 13 alasan yang kemudian ia rekam dalam rekaman pita kaset yang ia kirim kepada temannya. Alasannya beragam, mulai dari perundungan, pelecehan seksual, dan masalah pertemanan yang kemudian membuatnya depresi dan memutuskan untuk bunuh diri.

Kita kerap tidak memperdulikan perubahan mood pada remaja dan menganggap hal yang lumrah terjadi. Padahal, perubahan mood bisa menjadi gejala awal gangguan kesehatan mental pada remaja. Remaja merupakan fase peralihan dari anak menuju dewasa sehinga sering terjadi banyak perubahan. Mulai dari perubahan fisik, hormonal, kognitif, emosi dan perilaku. Di masa transisi tersebut, remaja sedang mencari jati dirinya. Maka, disaat remajalah lingkungan berperan dalam proses menemukan jati diri yang sesuai.

Emosi yang belum stabil, naik turun, ditambah berbagai masalah yang dialami remaja seperti masalah hubungan percintaan dengan teman, persahabatan, bullying bahkan tak jarang juga remaja banyak memiliki masalah dengan orangtua dapat berpengaruh terhadap kesehatan mental remaja.

Selain faktor lingkungan dan proses pencarian jati diri remaja yang dapat menjadi pemicu gangguan mental pada remaja, ada faktor lain juga seperti genetik. Faktor keturunan dari orangtua atau bahkan dari kakek nenek hingga saudara yang masih jauh sekalipun bisa menjadi faktor pemicunya.

Nah, apabila remaja tidak memiliki strategi dan dukungan yang baik, gejala gangguan kesehatan mental dapat memicu perilaku bunuh diri pada remaja. Orangtua yang seharusnya paling dekat dengan tumbuh kembang remaja yang semestinya bisa jadi rumah atau tempat bersandar ketika seorang remaja lelah menghadapi hari-hari yang harus dilaluinya.

Dilansir dari berbagai sumber seperti pijar psikologi, into, berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan jika terjadi pada orang terdekat kita hususnya jika dialami oleh para remaja:

  • Perubahan mood yang sangat cepat
  • Menarik diri dari sosial
  • Perubahan intensitas makan; bisa kehilangan nafsu makan atau justru kenaikan nafsu makan
  • Perubahan durasi tidur
  • Kehilangan minat dan hoby
  • Tidak memiliki semangat
  • Mudah terpancing emosi atau marah, dan lain sebagainya.

Lalu, dengan situasi tersebut circle atau lingkaran pertemanan yang sehat sangat diperlukan. Teman sebaya perlu dibangun untuk menjadi ruang aman bagi para remaja yang sedang dalam fase dengan gangguan kesehatan mental.

Bagaimana kita menjadi teman sebaya untuk teman kita sendiri? Ini saran-saran yang bisa dilakukan yang diambil dari berbagai sumber dan beberapa pengalaman penulis sendiri yang sampai saat ini pun masih berjuang dengan kesehatan mental.

Pertama, mulailah peka dan jangan menganggap sepele perubahan mood yang dialami oleh teman kita apalagi menjadi judgmental menganggap teman kita lebay atau abg labil. Jika teman kita sedang ada masalah dengarkanlah dan jangan menganggap sepele karena setiap orang memiliki kapasitas menghadapi masalah yang berbeda. Mereka membutuhkan dukungan dari orang-orang disekitarnya.

Kedua, psikolog atau psikiater bisa menjadi rujukan jika tekanan yang dialaminya sudah berat dan sudah sampai membahayakan dirinya maupun sekitarnya.

Ketiga, kadang teman kita memang membutuhkan waktu me time atau sendiri ketika sedang di fase depresi. Namun, ada situasi dimana kita tetap harus “menjaga” dalam arti jangan membiarkan teman kita benar-benar sendiri, apalagi jika teman kita sudah memiliki suicide tought atau kecenderungan untuk bunuh diri ataupun menyakiti diri sendiri.

Keempat, ajaklah teman kita keluar kamar ataupun rumah dan menikmati sinar matahari, bertemu dengan alam bisa membantu menyegarkan perasaan teman kita. Jangan lupa, ketika kita mengajak teman kita untuk keluar rumah, tetap tidak dengan paksaan ya. Kita bisa membujuknya dengan cara yang ramah dan membuat teman kita merasa nyaman tidak terancam.








Peta Layanan
Menu ini berisi tentang materi utama tentang kesehatan seksual dan reproduksi yang dapat dijadikan rujukan bagi
Audio Visual
Menu ini berisi tentang materi utama tentang kesehatan seksual dan reproduksi yang dapat dijadikan rujukan bagi
Alat Test
Menu ini berisi tentang materi utama tentang kesehatan seksual dan reproduksi yang dapat dijadikan rujukan bagi




Jangan lupa follow kami ya...






Didukung Oleh :
Copyright Dunia Remaja © 2014 Developed by dunia remaja