Berita



Home / Aku tahu / Reportase
Sumpah Pemuda Dan Ketertinggalan Perempuan

Minggu,28 2018 oleh Dwi Lestari


Sumpah Pemuda Dan Ketertinggalan Perempuan

Pic/detik.com

Tahun 1928 adalah tahun lahirnya Sumpah Pemuda. Tahun sahnya “Bahasa Indonesia” digunakan sebagai bahasa Nasional Bangsa Indonesia. Berkat, 3 hari melakukan kongres pemuda, di tanggal 26, 27 dan 28 Oktober 1928, akhirnya kongres itu menghasilkan ikrar Sumpah Pemuda.

Ikrar sumpah pemuda adalah tonggak perkembangan kaum intelektual bangsa Indonesia. Di masa itu mulai bermunculan literasi. Namun karena masa itu bangsa Indonesia belum mengenal bahasa pemersatu. Bahasa yang dapat digunakan sebagai identitas bangsa Indonesia. Sehingga disahkannya lah “Bahasa Indonesia” sebagai bahasa nasional. Dari situ, mulailah muncul tatanan bahasa Indonesia, lagu kebangsaan, bendera kebangsaan, cita-cita kemerdekaan bangsa.

Inilah tonggak kaum intelaktual membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik. Arah kesadaran ingin merdeka dari penjejah. Di tahun-tahun itu juga banyak jejak kaum intelaktual bangsa Indonesia telah mampu membuat karya sastra. Terutama laki-laki. Karena perempuan saat itu masih tertinggal. Berdasarkan catatan Handayani (2015), perempuan di tahun itu masih mengalami domestifikasi. Perempuan masih sebatas sebagai konco wingking. Perempuan hanya berkutat mengurus dapur, sumur, dan kasur.

Perempuan saat itu, dan mungkin saat ini masih tertinggal dengan laki-laki, karena mungkin dalam benak perempuan, masih menganggap kegiatan domestik adalah kegiatan wajib, dan wajar untuk dilakukan seorang perempuan. Sedangkan kegiatan di luar rumah adalah kegiatan yang tidak wajar, kegiatan yang menyalahi kodrat sosial seorang perempuan. Tidak dipungkiri, ini semua adalah budaya yang sudah mengakar. Jauh sebelum tulisan ini terpikirkan. Jadi wajar, kalau kesadaran palsu itu masih melekat.

Merasa baik-baik saja, normal-normal saja, dengan kegiatan domestik yang dilakukan. Karena baginya itu adalah kewajiban seorang perempuan. Mengurus dapur, sumur, kasur itu. Lantas ia lupa tentang dirinya, dan lingkungannya, ia hanya ingat kegiatan domestik, dan tidak mengenal kehidupan di luar domestik itu seperti apa.

Secara sosial perempuan dibentuk menjadi seseorang yang hanya tahu pekerjaan domestik. Istilahnya sebagai ibu rumah tangga. Sedangkan laki-laki secara sosial dibentuk menjadi seseorang pekerja publik, tulang punggung keluarga. Wajar, jika laki-laki bisa bertemu banyak orang, dan bekerjasama dengan banyak orang. Karena laki-laki kegiatannya membangun relasi untuk mendapatkan penghasilan. Sedangkan perempuan, hanya cukup ngurus dapur, sumur dan kasur.

Saat seorang perempuan hanya berkutat mengurus dapur, sumur dan kasur. Perempuan semakin tertinggal dari perkembangan zaman. Dugaanku, hal itu juga yang terjadi di tahun 1928, jika pada saat itu banyak literasi bermunculan, dan penulisnya lebih banyak dari kaum laki-laki ketimbang perempuan. Itu karena perempuan saat itu masih mengalami domestifikasi, kebodohan, ketertinggalan, dan kesenjangan dari laki-laki. Andai pun saat itu perempuan dalam sebuah karya literasi. Itu pun hanya sebagai obyek tulisan. Bukan sebagai penulis. Karena perempuan belum tahu banyak hal tentang dunia literasi, baca dan tulis.

Tahun 1928 hingga tahun 2018 sudah 90 tahunan bangsa Indonesia berikrar dengan Sumpah Pemuda. Diharapkan dengan ikrar tersebut, bangsa Indonesia semakin berkembang, maju dalam berbagai hal. Nampaknya hal itu tidak mampu mengubah perempuan di Indonesia jauh dari ketertinggalan. Terutama dalam hal baca dan tulis. Hasil riset dari Universitas Central Connecticut State di New Britain yang di ulas oleh Media Indonesia di 8/10/2017 tahun lalu, mengatakan, masih banyak penduduk di Indonesia yang buta huruf. Ada sekitar 2.258.990 jiwa, perempuan yang masih buta huruf. Dan ada sekitar 1.157.703 jiwa, laki-laki yang masih mengalami buta huruf.

Dari data tersebut cukup jelas, perempuan masih menduduki buta huruf tertinggi dari kaum laki-laki. Padahal perempuan adalah agen perubahan, karena perempuanlah yang melahirkan generasi penerus bangsa. Perempuan juga yang mengurus, anak di rumah. Maka yang mendidik anak tentang dasar kehidupan adalah perempuan. Namun setelah mengetahui data, bahwa perempuan menduduki angka buta huruh terbanyak. Maka dugaanku, sejauh ini banyak perempuan mendidik anaknya, tanpa mengenal baca dan tulis.

Dengan data buta huruf tersebut juga, telah memperlihatkan pada kita, perempuan adalah makhluk yang mengalami kesadaran palsu. Merasa aman, nyaman, baik-baik saja, normal, namun nyatanya tidak. Sesuatu yang selama ini dianggapnya sebagai hal yang wajar dilakukan, nyatanya hal itulah yang sebenarnya membuat dirinya tertinggal dari perkembangan zaman. Tertinggal untuk mengetahui banyak hal di luar dunia domestik. Karena mengetahui sesuatu minimal diketahui melalui membaca. Lantas saat seorang perempuan tidak bisa membaca, maka pengetahuanya pun terbatas hanya itu-itu saja.

Selamat Hari Sumpah Pemuda.








Peta Layanan
Menu ini berisi tentang materi utama tentang kesehatan seksual dan reproduksi yang dapat dijadikan rujukan bagi
Audio Visual
Menu ini berisi tentang materi utama tentang kesehatan seksual dan reproduksi yang dapat dijadikan rujukan bagi
Alat Test
Menu ini berisi tentang materi utama tentang kesehatan seksual dan reproduksi yang dapat dijadikan rujukan bagi




Jangan lupa follow kami ya...






Didukung Oleh :
Copyright Dunia Remaja © 2014 Developed by dunia remaja