Berita



Home / Aku tahu / Reportase
Idealnya Keluarga Bahagia Sejahtera Versi Iklan Di Televisi

Kamis,29 November 2018 oleh Dwi Lestari


Idealnya Keluarga Bahagia Sejahtera Versi Iklan Di Televisi

Hi, teman-teman kini berapa usiamu?. Dan sudah berapa iklan yang kamu tonton di televisi (TV)?. Kalau usiamu sudah mencapai 10 tahun keatas. Tentu iklan di TV yang kamu lihat juga banyak, pula. Secara sadar atau tidak, iklan di TV yang kita lihat setiap hari itu telah membuat pikiran kita terkonstruk, bahwa barang yang diiklankan itu enak, mewah, bagus, dan kita mebutuhkannya. Tentu disanan juga menggambarkan kehidupan-kehidupan yang bahagia sejahtera ala iklan itu sendiri.

Kita ambil contoh iklan yang menggambarkan sebuah kelarga, dalam iklan itu masih membawa misi program Keluarga Berencan (KB). Dua anak cukup. Di wujudkan dengan logo. Terlihat 4 orang yang bergandengan tangan. Ibu, ayah, dan 2 anak yang terdiri dari 1 perempuan, dan 1 laki-laki.

Selama bertahun-tahun iklan di TV selalu menayangkan kehidupan keluarga bahagia sejahtera seperti itu. Keluarga inti selalu digambarkan dengan 4 orang. Teman-teman, mulai sekarang bisa mengamati iklan-iklan yang bersliweran di TV masing-masing. Apakah benar adanya iklan di TV sering menggambarkan kehidupan keluarga bahagia sejahtera itu dengan 1 istri, 1 suami, 2 anak, perempuan 1, dan laki-laki 1.

Selain itu, seorang ibu dan anak perempuannya selalu digambarkan sebagai penghuni dapur. Sedangkan ayah digambarkan sebagai seorang penikmat olahan ibu. Anak laki-laki jarang digambarkan membantu ibu untuk memasak di dapur.

Iklan-iklan seperti ini, tanpa kita sadari telah mengendap di otak kita sebagai pengetahuan. Bahwa idealnya berkeluarga adalah seperti yang ada di dalam iklan itu. Ibu memasak kudapan bersama anak perempuannya. Ibu membuat dan menyajikan masakan atau minuman. Ayah bersama anak laki-lakinya hampir tidak pernah digambarkan membantu ibu memasak ibu di dapur. Atau ayah dan anak laki-lakinya menjalankan kegiatan rumah tangga.

Iklan seperti itu memang seringkali luput dari pembicaraan, dan rasa janggal, atau mempertanyakan hal itu, kenapa demikian?. Yang jelas, dengan iklan seperti itu secara sadar atau tidak, telah membantu melanggengkan budaya patriarkhi. Bahwa perempuan atau ibu itu hanya bisa memasak, dan mengurus rumah tangga termasuk anak-anaknya.

Sedangkan laki-laki atau ayah hanya mampu bekerja di ranah publik, dan tidak bisa mengerjakan pekerjakan rumah tangga dan menjaga anak. Padahal dalam hal memasak, atau pun membuat minuman adalah kegiatan yang bisa dilakukan oleh setiap orang. Baik dia laki-laki atau pun perempuan. Sekali pun kegiatan dapur pun bisa dikerjakan oleh laki-laki atau perempuan.

Ruang dapur, masak memasak, membuat minuman harusnya tidak memiliki identitas perempuan atau laki-laki. Karena semua itu adalah tentang urusan naluri rasa lapar dan haus. Sehingga harusnya setiap orang mampu memenuhi kebutuhan naluri alaminya secara mandiri, tanpa mewajibkan perempuan untuk melakukan itu.

Namun karena iklan juga mampu mempersuasi setiap orang yang melihat iklan tersebut. Sehingga orang yang awalnya tidak merasa butuh akan barang yang diiklankan tersebut, dengan seringnya iklan yang ditayangkan. Serta seringnya kita melihat itu, kita pun akan terpengaruh. Termasuk dalam pola pikir kita, begitu pun dengan gambaran ibu sebagai tukang masak, tukang membuat kudapan, membuat teh, kopi untuk laki-laki atau seorang ayah atau suami.

Maka, dari apa yang dilihat itu pun akan diinternalisasikan, bahwa yang dilihat itu adalah sesuatu yang ideal. Akhirnya pun mengikuti gaya kehidupan yang ada di iklan tersebut. Dan menganggap kehidupan yang ada di dalam iklan itu adalah yang ideal dan patut untuk ditiru.

Manusia sebagai makhluk pemikir, harusnya secara sadar juga harus mampu mencetuskan keluarga yang ideal untuk dirinya sendiri sendiri. Artinya setiap orang harusnya bisa mengkonsep kehidupan yang ideal untuk dirinya sendiri. Berdasarkan kemampuan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki. Bukan hanya berdasarkan iklan-iklan yang dilihat. Karena sesuatu yang terlihat indah, bagus, bahagia, belum tentu hal itu seindah, sebagus seperti yang terlihat.

Jadi mengidolakan sesuatu itu baik. Namun kita pun harus tahu diri, atas kemampuan yang kita miliki. Beberapa hal yang mungkin bisa dijadikan pertimbangan bagi kamu deskripsi tentang keluarga bahagia sejahtera. Pertama, keluarga dibentuk berdasarkan nalar sadar kita, bahwa itu sesuai kemampuan yang kita miliki.  Kedua, dalam keluarga harus ada kesepakatan bersama antar pasangan dalam pembagian peran.  Ketiga, dalam keluarga harus ada kesepakatan bersama, dalam menentukan berapa anak yang dimiliki.








Peta Layanan
Menu ini berisi tentang materi utama tentang kesehatan seksual dan reproduksi yang dapat dijadikan rujukan bagi
Audio Visual
Menu ini berisi tentang materi utama tentang kesehatan seksual dan reproduksi yang dapat dijadikan rujukan bagi
Alat Test
Menu ini berisi tentang materi utama tentang kesehatan seksual dan reproduksi yang dapat dijadikan rujukan bagi




Jangan lupa follow kami ya...






Didukung Oleh :
Copyright Dunia Remaja © 2014 Developed by dunia remaja