Berita



Home / Aku tahu / Kabar Remaja
Lawan Korupsi, Mulai Dari Diri Sendiri

Kamis,27 Desember 2018 oleh Isnaeni Nur Fatima


 Lawan Korupsi, Mulai Dari Diri Sendiri

Apa sih yang terlintas ketika mendengar kata korupsi? Kalau dikiaskan korupsi seperti tikus yang melahap apa saja yang didepannya. Karena tikus identik dengan kerakusan dan tumbuh subur dengan apa saja yang ia makan. 

Korupsi menjadi topik yang menarik yang tidak mendidik. Kalau bahas korupsi mulai dari orang biasa duduk di angkringan sambil minum kopi dan ngemil gorengan pun akan memberikan pendapat. Bahkan orang dengan jabatan tinggi di pemerintah atau perusahaan pun juga tak luput dari topik korupsi. 

Korupsi identik dengan penyelewengan dana, penggelapan dana, ketidak jujuran dan tidak amanah. Meski sejak tahun 98 hingga saat ini korupsi Indonesia dapat ditekan dan menunjukkan indeks pada penilaian membaik namun masih perlu banyak berbenah pula. Nampaknya ada kesesatan berpikir dan moral yang bermasalah  bahwa menggunakan dana yang bukan haknya pun bukan menjadi masalah.

Pelaku korupsi dari pejabat daerah, mantan menteri, ketua partai politik pun banyak sekali yang terlibat. Padahal mereka itu memiliki latar pendidikan yang baik, perekonomian yang jauh dari kata cukup, pembisnis yang handal hingga praktisi yang profesional. Namun disamping semua itu kembali pada setiap pribadi. Ilmu yang tinggi seklipun tidak berarti apapun tanpa dibarengi dengan pendidikan karakter dan akhlak yang baik.

Semasa kuliah atau masa SMA sering kali mengadakan acara agar berjalan dengan lancar, acara harus mengajukan proposal kepada pihak sponsor. Mendapatkan dana dari sponsor harus dikelola dengan baik karena itu bagian dari tanggungjawab. 

Namun terkadang, sebagai contoh para panitia yang terlibat beranggapan telah lelah bekerja, menggunakan tenaga, waktu dan pikiran terkuras sehingga dengan mudah meminta uang lelah sebagai penggantinya. Padahal uang lelah semacam konsumsi dan transportasi sudah diperhitungkan yang seharusnya tidak menjadi masalah. 

Namun ada juga sebagaian panitia yang meminta lebih di luar anggaran. Mungkin ini gambaran penyelewengan dana dari lingkup organisasi yang kecil. Karena adanya kebiasaan untuk melebihkan anggaran dan rasa pamrih terhadap perkerjaan dilakukan. 

Bila menjadi panitia memang sebagai proses belajar yang menjadi hal wajar akan terkurasnya tenaga dan panitia pun juga mendapat pengalaman bukan? Seperti halnya pejabat negara merasa sudah mengabdi untuk negara, bekerja di lapangan atau pun di kantor. 

Gaji dan tunjangan yang diperoleh pun sebenarnya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Herannya apa yang diperoleh dirasa tidak cukup untuk membayar jasa pengabdian mereka maka terjadilah korupsi. 

Perlu disadari ini menjadi hal yang biasa karena terbiasa. Kebiasaan ini berlanjut hingga di masa selanjutnya dan beregenerasi.

Itu hanya contoh kecil bagian dari awal korupsi. Perilaku terbiasa tidak jujur, merasa pamrih, rakus, yang sudah mengakar karena terbiasa tadi. 

Korupsi sebenarnya tidak hanya terjadi di lingkungan lembaga negara saja. Lembaga swasta pun juga rentan terjadi korupsi dengan menggelapkan dana dan menggunakan dana yang tidak sesuai anggaran. 

Korupsi hanya bisa di lawan atas dasar kemauan dari dalam diri. Menjadi manusia yang bermartabat dan bermoral nyatanya cukup sulit di masa sekarang, apalagi di jabatan yang besar dan adanya kesempatan. Mari lawan Korupsi mulai dari hal yang kecil, Jadilah kaya karena beridealis daripada miskin moral karena keserakahan. 

 








Peta Layanan
Menu ini berisi tentang materi utama tentang kesehatan seksual dan reproduksi yang dapat dijadikan rujukan bagi
Audio Visual
Menu ini berisi tentang materi utama tentang kesehatan seksual dan reproduksi yang dapat dijadikan rujukan bagi
Alat Test
Menu ini berisi tentang materi utama tentang kesehatan seksual dan reproduksi yang dapat dijadikan rujukan bagi




Jangan lupa follow kami ya...






Didukung Oleh :
Copyright Dunia Remaja © 2019 Developed by dunia remaja