Berita



Home / Aku tahu / Kabar Remaja
Bagaimana Jika Laki-Laki Periksa Kesehatan Reproduksi, Apakah Aneh?

Sabtu,29 Desember 2018 oleh Dwi Lestari


Bagaimana Jika Laki-Laki Periksa Kesehatan Reproduksi?

Ketika Perempuan memeriksakan organ reproduksinya ke dokter, pukesmas, atau ke rumah sakit adalah hal yang biasa. Bagaimana dengan laki-laki yang memeriksakan kesehatan reproduksinya ke dokter, pukesmas, atau ke rumah sakit?.

Harusnya hal ini juga biasa saja ya teman-teman. Karena di dunia ini tidak ada orang yang selalu sehat sepanjang masa, dan tidak ada orang yang sakit sapanjang masa. Jadi saat ada laki-laki memeriksakan organ reproduksinya itu tindakan yang bagus, karena mengetahui sakit lebih awal itu lebih baik, ketimbang mengetahui setelah semua memburuk.

Perempuan dengan laki-laki adalah dua jenis makhluk yang diciptakan Tuhan dengan organ reproduksi. Walau jenis organ reproduksi yang dimiliki keduanya berbeda. Namun keduanya diciptakan Tuhan untuk saling melengkapi. Dalam kehidupan bermasyarakat kita harus tunduk, dan patuh pada nilai-nilai dan norma sosial yang ada.

Karena dengan patuh dan tunduk itulah kita akan dianggap sebagai manusia normal. Kenormalan dalam kehidupan bermasyarakat adalah mengikuti yang mayor, dan mengucilkan yang minor. Tanpa dipungkiri itulah yang terjadi dalam kehidupan di masyarakat. Hal itu juga sama dengan yang alami teman saya. Sebut saja dia A.

A adalah seorang remaja laki-laki yang beberapa waktu mengalami stigma di lingkungannya. Dia seorang remaja laki-laki yang melakukan cek kesehatan reproduksi di rumah sakit. Saat dia berada di rumah sakit dia dijulitin oleh orang-orang disekitarnya. Karena tindakan memutuskan pergi ke rumah sakit dan memeriksakan organ reproduksinya adalah hal yang aneh. Gak normal.

Kesan yang terjadi di masyarakat Laki-laki itu kuat, tidak gampang mengeluh, sehat, sempurna. Sakit-sakitan, lemah, riwa-riwi periksa organ reproduksi hanya dimungkinkan ke perempuan, sehingga normal, biasa saja kalau perempuan yang bolak-balik memeriksakan organ reproduksi.

Anggapan ini muncul, karena mengingat perempuan memiliki beban kodrat. Yaitu menstruasi, hamil, melahirkan dan menyusui (normalnya). Sehingga perempuan harus selalu sehat, dan terpantau kesehatannya.

A adalah remaja yang bisa dikatakan kurang sehat, dan mungkin terlihat berbeda. Karena diusia yang masih remaja dia harus keluar masuk rumah sakit untuk periksa organ reproduksinya. Karena dia sudah tidak sanggup menahan rasa sakit yang dideritanya. Sehingga dia pun secara mandiri, tanpa sepengetahuan orang tuanya dia memberanikan diri untuk periksa.

Dia tidak berani cerita kepada siapapun. Termasuk orang terdekatnya, kedua orang tuanya dan teman sebayannya. Karena dia yakin hal ini akan semakin membuatnya terpojok dengan keluhan yang dirasakan. Apalagi yang dia keluhkan ada di sekitar organ reproduksi. Sekitar kelamin. Itu adalah kawasan yang ditabukan, dan mungkin ini memalukan.

Awalnya hanya sakit gatal-gatal saja. Namun karena berangsung-rangsung lama tidak ada tindakan. Hingga sakit itu pun semakin dirasanya parah. Dia pun akhirnya memberanikan diri untuk datang ke puskesmas, untuk meminta rujukan ke rumah sakit.

Rasa malu yang diderita A bukan hanya dalam menceritakan sakit yang dideritanya kepada orang lain. Tapi dia juga malu saat dia diperiksa dokter. Saat itu dia diperiksa oleh dokter perempuan. Perbedaan jenis kelamin inilah yang membuat dia merasa canggung, dan gaguk. Karena organ reproduksinya dilihat, dan diperiksa-periksa oleh dokter perempuan. Disitu diapun merasa malu.

Setelah dia diperiksa dan diagnose oleh dokter. Dia pun mengetahui yang dikeluhkan selama ini. Dia juga merasa lebih tenang dengan sakit yang derita. Karena merasa lebih baik, tenang dan mulai memiliki semangat tersendiri dalam keterbukaan dalam kesehatan reproduksinya.

Memang di masyarakat masih menganggap laki-laki yang melakukan cek kesehatan organ reproduksi dianggap tabu, dan saru. Namun dengan memendam segala keluhan, sakit yang kita alami di organ reproduksi, hal itu tidak akan menyelesaikan masalah. Itu hanya akan menjadikan sakit itu tidak terdiagnosa, dan tidak tertangani dengan baik.

A pun setelah sakitnya tertangani oleh pihak yang tepat dalam hal itu. Dia pun kini bisa sembuh dari sakit yang dideritanya. Walau pun bekas sakit yang dia derita itu meninggalkan bekas fisik, dan tentu meninggalkan ingatan yang luar biasa. Namun baginya dengan memeriksakan organ reproduksinya, walau itu tabu di masyarakat. Dia menyadari kalau dia tidak segera memutusan itu, mungkin sakitnya akan lebih buruk dari itu, begitu pun dampaknya.








Peta Layanan
Menu ini berisi tentang materi utama tentang kesehatan seksual dan reproduksi yang dapat dijadikan rujukan bagi
Audio Visual
Menu ini berisi tentang materi utama tentang kesehatan seksual dan reproduksi yang dapat dijadikan rujukan bagi
Alat Test
Menu ini berisi tentang materi utama tentang kesehatan seksual dan reproduksi yang dapat dijadikan rujukan bagi




Jangan lupa follow kami ya...






Didukung Oleh :
Copyright Dunia Remaja © 2019 Developed by dunia remaja